Sebelah Tangan

Hujan baru saja berakhir malam itu. Dinginnya menusuk sampai ke tulang. Entah kenapa, mata fisik dan mata batinku tertuju pada seorang peminta di tepian jalan. Mungkin malam itu, Tuhan memang mengutus kami kepadanya.

Setelah 20 menit melintasi jalanan sepanjang BIP dan BEC akhirnya kami menghentikan langkah kaki kami.
Kami berhenti untuk memberikan sebungkus nasi dan air minum kepada seorang bapak tanpa tangan kanan.
Setelah memberikan nasi, kami duduk di tepian jalan itu. 3 orang satpam berdiri di hadapan kami, menatap tajam seakan kami pencuri. Orang-orang lalu lalang diantara hiruk pikuk akhir pekan. Beberapa dengan tampang bingung memperhatikan kami. Setelah memberi nasi, kami duduk bersama bapak itu di emperan, bercerita.

Bapak itu bernama Pak Agus. Ia menjelajah kota Bandung bersama Istri dan enam orang anaknya dari Solo. Dahulu dia bekerja di sebuah percetakkan di kota asalnya, namun itu berubah setelah kecelakaan yang dialaminya. Ia tersingkir dari bumi manusia yang kita duga adil. Sudah banyak jenis pekerjaan yang dia ajukan, namun tidak ada yang menerimanya. Di kota asal, ia merasa gelisah karena selalu dibantu kakaknya. Maka akhirnya ia memutuskan untuk pergi dari Solo menuju Bandung. Tidak ada perbedaan dari ketika ia di kota asalnya, hanya tanpa bantuan sang kakak dia menjalani hidup.

Di kota Bandung ia tidur di alun-alun bersama seluruh keluarganya. Sama seperti di Solo, ternyata beliau tetap tidak memperoleh pekerjaan karena apa yang tidak dimilikinya. Akhirnya ia memilih untuk usaha kecil-kecilan dengan berjualan rokok dan pulsa. Pada awalnya semua tampak menjanjikan dan memberi harapan, namun kenyataan berkata lain. Ia merugi cukup banyak, berjualan rokok satu-satunya yang bisa ia pertahankan bersama dengan hidupnya yang sederhana. Mau tak mau keadaan yang begitu sulit membuatnya harus mengemis. Ya, hanya karena ketidaksempurnaannya.

Pertemuan itu kemudian kututup dengan mendoakan Pak Agus setelah bercerita. Tanpa perduli apa yang orang pikirkan di jalan itu kami mendoakannya. Tak kusangka, ia menitikkan air mata setelah kami selesai berdoa. Hatiku tersayat melihat air mata yang jatuh. Seakan aku bisa merasakan apa yang dialaminya. Dipandang sebelah mata karena tidak memiliki sebelah tangan. Pak Agus, semoga Tuhan besertamu!

Dunia tidak tercipta dalam kesetimbangan bagi beberapa orang. Tersiksa dan pesimis yang dirasa dalam ketidak-adilan itu. Lantas siapa yang mau disalahkan? Sang Pencipta? Tuhan selalu adil dalam segala perbuatanNya. Manusialah yang menciptakan ketidak-adilan itu. Umat-umat Tuhan, jangan berlaku layaknya setan-setan di Neraka. Ada tanggung jawab yang harus kita emban jauh dari zona nyaman kita. Melalui siapa lagi Ia memberi, mengasihani dan bekerja jika bukan melalui umatNya?

Terutama kita orang-orang Kristen. Ke-Kristenan bukanlah kapal pesiar yang berarti kita sudah selamat sampai ke akhir. Ke-Kristenan adalah kapal sekoci yang senantiasa mencari orang untuk ditolong.
Gelisahlah untuk menolong orang lain yang membutuhkan terlepas dari siapa mereka.

Pada akhirnya dunia akan selalu bertanya: Dimana anak-anak Tuhan ketika kami membutuhkan uluran tangan mereka?

Kita tidak boleh berhenti berjuang. Kita harus terus telusuri jalan yg setapak ini. Semoga kita bisa menjadi jawaban.

With great powers comes great responsibility. Knowledge is power, freedom is a greater power. Christ is the greatest power. Yet He lives inside me and you. Now, realize, our responsibility is GREATER than GREAT!

Bandung, 13 Desember 2011
~Soli Deo Gloria

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *