Observasi Terhadap Orang Indonesia: Asal Dapur Ngebul

Asal dapur ngebul merupakan salah satu fenomena yang sering dijumpai dalam obrolan dengan orang-orang Indonesia (versi paling serem: ngobrol sama calon mertua). Sering dalam obrolan kumpul keluarga, sebagai anggota keluarga berusia 20-an, dibombardir dengan obrolan mengenai pekerjaan. Dan setelah menyampaikan informasi mengenai pekerjaan yang sedang dilakukan, buntutnya.. yah lumayanlah asal dapur ngebul.

Asal Dapur Ngebul

Tentu untuk masyarakat kelas pendapatan bawah kalimat kayak gitu wajar, tapi kalo muncul dari kelas menengah ke atas? Apa coba dasar berpikirnya yang menyebabkan orang menganggap bahwa asal dapur ngebul adalah hal yang wajar? Nah coba2 dulu yuk ditengok2 dan diobservasi.

Mungkin orang Indonesia itu sebagian besar plegmatik bos, makanya jadi yasudahlah asal ngebul aja dapur, aman.

HAH. TETOT! Salah besar!

Kenyataannya justru lingkungan yang menyumbang persentase terbesar terhadap seseorang. Orang yang dikelilingi orang-orang yang plegma would most likely be one. Ini juga terjadi sama tontonan kita, obrolan kita, teman2 kita, bacaan kita, mainan kita, website yang kita kunjungin. Makanya jangan sering2 nonton yang gak jelas. Kalo nggak ada tayangan yang bermanfaat di televisi, udah ngeyoutube aja cari yang lebih bermanfaat kayak vidio vidio TED.com.

Kemungkinan lain yang bisa menjadi penyebab adalah sebenernya gak senang sama profesinya sekarang bos, tapi doi disuruh keluarga atau orang tua atau bahkan pacar #eh.

Nah ini banget nih. Banyak diantara temen gue ngalamin hal ini banget. Jangan jadi A, jadi B aja. Jadi dokter aja uangnya banyak. Minyak aja minyak atau tambang, gajinya gila-gilaan. Mau tau sesuatu nggak? Anak jurusan tambang, minyak dan sekitarnya yang baru lulus 2 tahun belakangan ini susah banget dapet kerja men (hasil ngobrol sama fresh graduate). Industrinya lagi kacau balau. Dan banyak yang nggak ngeliat keruntuhan industri tersebut sebelumnya. Alhasil mereka banyak yang kabur jadi bankir.

Tidak ada orang tua yang berniat mencelakakan anaknya (kecuali yang sakit jiwa). Namun terkadang ketidaktahuan yang membuat orang melakukan hal tersebut. Percaya atau tidak, generasi selanjutnya akan memiliki akumulasi pengetahuan yang lebih banyak daripada pendahulu mereka. Sebagai contoh, dulu sebelum ada relativitas, yang dipelajari di kelas hanyalah mekanika klasik. Atau yang orang dulu tau yah sampe mekanika klasik. Namun setelah adanya hukum relativitas, kita jadi belajar mekanika kuantum dkk. Atau misalkan dulu bapak2 kita waktu kuliah nyari bahan belajar harus berjam2 di perpus, sedangkan generasi kita tinggal nunggu unduhan di komputer barang sejam atau dua jam. Semakin maju zaman, semakin mudah kita mengoleksi pengetahuan (kalo aplikasinya lain cerita :p). Sedangkan untuk memprediksi bidang apa yang akan segera mekar, hanya sejauh mata membaca.

Nah selain karena arahan, bisa juga nih karena kita ikut2an. Sama sih sebenernya alasannya, karena gak suka nyari tahu. Kita ngelihat orang sukses ngerjain A, ngerjain B (seringnya sih nggak ngeliat jalan menuju suksesnya kek mana) terus kita jadi kepengen mengerjakan hal yang sama. Kalo kata seorang kawan sih pebisnis yang baik menciptakan hal yang baru di pasar, pebisnis yang cerdas nyiptain pasarnya sendiri.

Penyebab ngerjain sesuatu yang bukan passion yang paling penting adalah: ketiadaan visi. Supaya gampang, lo peratiin cerita berikut. Ada dua orang kuli bangunan yang sedang membangun. Kedua kuli tersebut ditanya mengenai apa yang sedang mereka kerjakan. Yang pertama menjawab: Saya sedang membangun gedung sekolah. Sedangkan yang kedua menjawab: saya sedang membangun gedung sekolah dimana nantinya akan ada anak2 yang sekolah didalam dan melalui pekerjaan saya mereka bisa mengenyam pendidikan. Jelas orang yang kedua punya visi. Lah apa ngaruhnya bos? Ngaruhnya di semangat kerja dan doa yang dititip melalui setiap bata yang disusun. Hanjaaay..

Menurut gw tiga prioritas orang tua yang paling bijak adalah membantu anak mereka menemukan passion mereka, menularkan hobi pengen tahu (bisa lewat baca buku, browsing, nonton video terkait passion mereka) dan membimbing secara rohani. Karena tidak ada metode pendidikan yang lebih baik daripada hubungan (terutama antara orang tua dan anak). Kenapa penting banget mengerjakan sesuatu yang disenangin? Karena tanpa antusiasme, you will only be mediocre.

Gapapalah mediocre, asal dapur ngebul
Yeh si kentang. Dasar mata duitan!

Well I am going to blatantly frank with you, beberapa suku di Indonesia memang mendorong orang untuk berperilaku demikian. Memang dorongannya tujuannya untuk membuat orang sukses, namun definisi sukses tidak sesempit punya rumah gedong dan uang banyak. Kalo tujuannya itu, yah wajar banyak orang Indonesia korupsi dimana-mana.

Hal lain yang mendukung munculnya mata-duitan-isme adalah gaya hidup yang berbinar-binar. Banyak banget temen gue yang lebih mementingkan besok makan di restoran apa ketimbang besok mau masak apa. Entah berapa banyak orang yang lebih penting memakai baju yang paling ngetren masa kini ketimbang membetulkan rumah mereka yang sudah usang. Entah berapa banyak orang yang mendahulukan gaya ketimbang kebutuhan. Yang paling gue males kadang yang gini2 tuh kerjaan anak ngabisin uang kerja keras bapaknya. Hadeh2. Inget yah, kalo uang yang elo abisin bukan buat kebutuhan, you’re a %$*@&#@!*&$^#@!

Fakta yang lebih menariknya adalah…………… Coba deh tengok daftar orang-orang terkaya dunia dan cerita dibalik kekayaan mereka. Ada gitu diantara mereka yang fokusnya nyari uang? Nggak ada choi. Mereka semua punya vision that revolutionize the industry in their respective fields. Kalo ada yang kaya karena keturunan pun setidaknya mereka masih bertanggung jawab dengan apa yang mereka miliki. Bahkan Bill Gates, kalo mau tau, secara akumulatif total kekayaannya yang sekarang itu cuma 40 persen dari semua yang pernah dia dapat selama karirnya. Lah 60% ilang kemana? Ke lembaga sosial dan riset doi men. Iyah disumbangin.

Henry Ford bilang bisnis yang cuma mentingin uang itu bukan bisnis. Sebelum Elon Musk sukses dengan Tesla dan Solar City, dia dulu ngejual PayPal ke eBay dan dapet bagian 180 juta dollar. Kalo isi otaknya ‘asal dapur ngebul’, kekayaan dia nggak akan sampe belasan miliar dollar kayaksekarang. Di kala Tesla (perusahaan mobil listrik) bakalan bangkrut dan ga punya investor, dia hampir ngabisin uang yang dia punya dari eBay untuk Tesla. Lihat kemana hal itu membawa dia hari ini. The rich does not look for money, they work to change the world and in return money look for them.

elonmusk

Gimana? Udah tambah bingung belum? Hahaha. Inget brur, cita-cita bukan jemuran, makanya kita harus gantungkan cita-cita kita setinggi langit!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *