Observasi Terhadap Orang Indonesia: Ah Palingan Juga…

Dufan

Inget yah, seri tulisan ini bertujuan sebagai ajakan bukan ejekan. Ajakan untuk sama-sama memperbaiki diri menjadi warga Indonesia yang lebih baik dan pribadi yang lebih baik. So positively, let’s change ourself!

Naah. Di bagian yang kedua ini, kita bakalan omongin sifat kedua yang mudah ditemuin kalo ketemu orang Indonesia: Ah palingan juga ada yang…….

Pernah dateng ke kondangan? Ya pasti perna lah yaa. Coba tebak kenapa tong-tong atau container-container plastik yang disediakan catering di samping-samping meja kok kosong? Yap. Piring-piring dan gelas-gelas kotornya ada di kolong bangku! Bahkan pernah dalam salah satu kondangan, gw liat dengan mata kepala sendiri nih. Orang-orang makan salak terus biji beserta kulitnya dibuang aja ke bawah. Waktu ditegor dan ditanya kenapa sembarangan jawabannya simpel: Ah palingan ada yang bersihin…

Pernah jalan di trotoar kan? Kalo gapernah keterlaluan sih. Pernah negor pengemudi sepeda motor yang naik ke jalur trotoar? Gw pernah dan jawabannya simpel: Ah palingan lo juga kalo naik motor make trotoar…

Pernah ngantri di bank atau di dufan atau di busway? Satu atau dua orang doyan banget nyerobot antrian, kayak nggak puas aja kalo nggak nyerobot. Haha. Lebih ngeselin lagi yang dorong-dorong antrian. Trus kalo ditegor jawabannya: Yah nanti gak kebagian. Ah palingan cuma beda semenit dua menit. Ah palingan juga nanti ada yang dorong lagi di belakang.

So now, the quintessence of the problem: Berdasarkan jenis dan bentuknya ada beberapa kategori ‘ah palingan’ yang bisa kita peras sarinya. Jenis yang pertama menunjukkan pasif dan takut mengambil inisiatif. Jenis yang kedua menunjukkan bahwa kita terlalu banyak melihat ketidakidealan. Jenis ketiga menunjukkan rasa minder. Setelah dirimang-rimang rasa-rasanya inti permasalahannya kita kurang semangat juang. Hmmmm.

Untuk menjadi pasif ketika masalah yang ditemui masih sepele tentu tidak menjadi masalah, tapi bagaimana kalau sifat pasif ini masih melekat ketika peluang mendekat? Ketinggalan nanti bung! Haha. Satu contoh mengenai pasif yang paling ngena itu tentang kearifan lokal negeri kita tercinta men. Banyak banget orang Indonesia yang ngerasa keren kalo makan-makanan eropa, korea, jepang, amerika dkk (kok gak ada yang ngerasa keren klo makan hidangan khas etiopia yah #eh). Ampe2 difoto segala. Tapi kok jarang ada orang ngerasa kern kalo makan hidangan tradisional? Coba liat gerai2 makanan yang baru di buka di sekitaran rumahmu atau di CFD dekat rumahmu. Burger, sosis lagi burger, sosis lagi. Coba deh liat video yang satu ini.

Sebentar lagi kita bakalan masuk era perdagangan bebas ASEAN. Free flow of labor, free flow of goods, free flow of service. Lantas nilai jual apa yang benar2 bisa membedakan antara produk yang kita jual dengan orang lain? Apa yang bisa membedakan etos kerja kita dengan orang dari negara tetangga kita? Oooof. To be frank with you, only local genius (kearifan lokal) to the rescue! Lagian masa ga malu sih kita, tradisi kita malah bule yang lebih peduli *pipi merah*

Orang Indonesia juga kayaknya udah terlalu fed up sama kondisi yang tingkat ngaconya udah terlalu parah. Venal officer of any governmental, political and law organizations bla bla bla. Kebiasaan yang udah turun temurun (buset dah, kebiasaan ato gen?). Benar memang tidak ada hal yang ideal di dunia ini. Namun justru untuk itulah kita bermimpi, kita bekerja dan kita hidup. Untuk menciptakan dunia yang lebih baik dan lebih ideal kelak. Mungkin kita tak dapat menikmati dunia baru itu, namun kelak anak cucu kita yang dapat merasakannya. Tentu kita tidak mau mewariskan dunia yang hancur bukan?

Kalau ngobrol2 sama orang2, mau ngapain setelah lulus rata2 jawabannya sama. Kalo kata dosen saya, ngapain kerja di perusahaan minyak? Kerja sana di pabrik tahu tempe. *ini serius*. Jawaban klisenya: butuh makan, gausah idealis2 amat, dapur harus ngebul, modal nikah. Kesimpulan singkatnya, kita punya terlalu banyak masalah kebutuhan dasar yang harus dipenuhi. Jadi ini nih bro alasan utama kita gabisa maju2 terutama dalam hal teknologi.

Ah kentut lo. Seriusan. Coba lihat Cina deh. Tahun 1950 negeri mereka lebih miskin dari kita choi. Bahkan latar belakang penggunaan sumpit karena terlalu banyak rakyat miskin disana yang ga bisa beli meja beserta alat makan yang lain *iya sih sebelum 1950 itu mah*. Beberapa tahun lalu kita hina2 barang tiruan made in china. Eh tetiba Xiaomi jadi salah satu merek HP yang bagus dan murah. You have to admit, mereka udah jauh lebih maju dari kita! Ga cuma di sektor teknologi aja choi. So, alasan lo masih valid gak?

Yang terakhir tampaknya dampak masa penjajahan yang masih lengket dengan setiap lapisan masyarakat: minder. Jahatnya kolonialisme dulu bagi saya bukan cuma mencuri sumber daya dan membunuh begitu banyak warga lokal, tapi menanamkan rasa minder di dalam diri kita. Seakan-akan ras mereka jauh lebih cerdas ketimbang kita. Bahkan sesungguhnya pengetahuan penjajah tentang penjelajahan tak sebaik orang- maluku. Pun dengan pengetahuan mereka tentang pertanian dibanding orang-orang Jawa. Kita hanya tak punya kesempatan untuk mempublikasikan pekerjaan kita. Ya, itu dulu. Namun hal ini masih sangat melekat di dalam benak kita sampe sekarang.

Ketika ada seorang bule di tempat kerja atau di sekolah kita, berapa banyak dari kita yang langsung merasa mereka lebih cerdas (lain cerita yah kalo soal day to day english conversation)? Padahal kenyataannya nggak brur. Bahkan kalo kita telusuri univ2 atau sekolah2 di US, mereka lebih takut sama orang Asia. Walaupun masih didominasi orang2 korea, jepang, china dan india, bukan tidak mungkin kelak kita dapat menjadi negara yang dihormati karena kontribusi kita terhadap dunia. Samanya kita manusia wak, jangan minder!
Kalo kata pak Freddy Zen: gak ada itu jenius. Adanya kerja keras, belajar yang bener biar pinter.

Makanya yuk kita belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Jangan pasif! Jangan minder! If you cannot find any ideal world, than make one! Because the best way to predict the future is to create it.

Mari berjuang 😀

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *