[Journal Extraction] Perkembangan Bayi Kimera

Waktu bocah lo pasti udah pernah denger tentang chimera kan? Anak digimon apalagi, pasti pernah denger dong kimeramon? Atau elo elo yang tertarik sama mitologi yunani pasti pernah denger soal chimera.

Well, chimera itu udah bukan lagi mitos choi. Udah ada yang ngebuat chimera. Dalam bentuk manusia pula. Yah setidaknya DNA-nya berasal dari tiga individu yang berbeda lah.

John Zhang menyentuh zona abu-abu antara sains dan moral ini dengan mencampurkan DNA dari tiga individu berbeda untuk menghasilkan seorang bayi laki-laki yang lahir pada April 2016 lalu. Baru-baru ini tim New Hope Fertility Center di New York City yang dipimpin Zhang mempublikasikan jurnal penelitian mengenai perkembangan bayi ‘chimera’ tersebut.

Ibu dari bayi membawa penyakit neurologis langka sehingga Zhang mengganti inti telur tersebut dengan inti telur dari donor (sebut saja ibu nomor 2). Penyakit ini berasal dari DNA mitokondria yang mengakibatkan mutasi pada mitokondria. Inti sel tersebut mengalami beberapa kali pembekuan dan pemanasan untuk mengisolasi inti sel yang akan dicampurkan menggunakan arus listrik dengan inti dari donor. Setelah mengganti inti, telur tersebut kemudian dibuahi oleh sel sperma dari ayah sebelum ditanamkan kedalam rahim ibu tersebut. Keren yah.

Lokasi mutasi yang menyebabkan penyakit keturunan dari sang ibu

Jurnal tersebut menyebutkan bahwa beberapa DNA penyakit dari ibu secara tidak sengaja terbawa ke dalam telur donor yang bisa berakibat jangka panjang bagi kesehatan anak. Dengan mengambil sampel dari tubuh bayi tersebut, ilmuwan dapat memperhatikan perkembangan bayi. Hasil uji sampel tersebut menunjukkan terdapat 2,36% DNA mitokondria dari sel dalam urin bayi yang mengalami mutasi. Sedangkan dari kulit bekas sunat bayi tersebut diperoleh 9,32% DNA mitokondria yang mengalami mutasi. Sayang organ kayak jantung dan otak nggak bisa diambil sampelnya kalo nggak lewat operasi.

Belum diketahui batas berapa persen mutase DNA yang dapat menghasilkan penyakit tersebut di dalam bayi. Pertanyaan lain yang turut muncul adalah apakah mencampurkan dua sel telur yang notabene bahan genetic dari dua individu berbeda dapat menimbulkan penyakit baru atau tidak. Penilitian pada tikus sih nunjukin kalo bocah chimera-nya bisa ngalamin gangguan neurologis atau gangguan pada metabolism.
Kedua orang tua bayi tersebut menolak ada penelitian lebih lanjut kepada anak mereka kecuali ada kondisi medik yang mendesak. Entah apa pendapat ibu nomor 2. Lantas, apakah ibu nomor 1 cemburu pada ibu nomor 2? Eh. Maksudnya: apakah anak tersebut akan menjadi permulaan dari ‘chimera’ lainnya? Apakah mencampur DNA 3 individu berbeda dapat menjadi solusi untuk mencegah penyakit keturunan?

8 Wanita dalam Sains

Sebelumnya selamat hari wanita kepada seluruh wanita di dunia!

Bidang Sains dan Teknologi merupakan salah satu bidang yang jarang banget dimasukin wanita. Nggak heran kampus-kampus teknik kayak ITB jadi kering kerontang karena kekurangan wanita *salah fokus*

Soalnya dari dulu banyak banget cap yang dikasih orang-orang sama wanita-wanita STEM (Sains, Teknologi, Enjiniring dan Matematika) kalo mereka terlalu maskulin. Mungkin karena bidang STEM dianggap sebagai bidang yang sangat logika dan wanita dianggap tidak sekuat pria dalam hal berlogika. Well, of course ini harus berubah sekarang juga. Karena ilmu yang ideal tidak kenal stereotip sosial seperti gender, agama, suku, dan ras. Apapun latar belakangmu, selama hal yang kau pelajari dapat divalidasi, yah kamu tetep bisa berkarya.

Makanya, tulisan ini gue buat untuk ngebuktiin ke kalian kalo wanita juga bisa sukses dalam bidang STEM. Berikut 10 wanita dalam bidang sains beserta kontribusi mereka terhadap ilmu pengetahuan:

Sally Boysen bersama dengan PAUD simpansenya

1. Sarah Boysen
Professor of Psychology, The Ohio State University
Koloni Boysen yang terdiri dari 11 ekor simpanse biasanya emang riweuh rempong kayak kelas yang isinya anak TK. Penelitian beliau ternyata menunjukan kalo simpanse memiliki kemampuan serupa dengan balita: yaitu kemampuan untuk berhitung secara sederhana.
Simpanse-simpanse ini bisa ngitung tambah, kurang, pecahan dan ngitung jumlah suatu benda.

Simpel tapi ampuh. Liat tuh airnya disaring dulu pake sari

2. Rita Colwell
Director, National Science Foundation
Kalo Mamak Colwell ini udah 25 tahun sob neliti mengenai kolera. Penelitian soal kolera ini merupakan penelitian antardisiplin ilmu yang terkait biologi molekuler, oseanografi, elektro dan bidang kesehatan. Doi berhasil nemuin cara yang unik dan cukup efektif untuk mencegah penyakit kolera. Caranya adalah dengan menyaring air melalui kain sari yang biasa kita liat di pilem India! Gokil abies. Strategi ini bahkan sanggum mengurangi jumlah pasien kolera sampai kurang lebih 50 persen. Wah, kalo di Indonesia mungkin bisa pake kain songket atau ulos yah.

One of the most electrifying women ever!

3. Esther Conwell
Professor of Chemistry, University of Rochester
Setengah abad kemaren, penelitian doi tentang bagaimana elektron melaju melalui silikon dan beberapa material semikonduktor lainnya memulai era komputer dan era informasi saat ini. Sebelum berpulang pada tahun 2014, Profesor Conwell sempat mempelajari juga pergerakan muatan listrik melalui DNA. Potensi penelitian ini ngeri-ngeri sedap bro. Kita jadi bisa tahun pergerakan rangsangan listrik seperti apa yang menyebabkan munculnya sel kanker atau kita dapat mempelajarinya untuk membuat rangkaian nano-elektrik yang mempunyai sifat DNA.

Berdiri di depan papan

4. Ingrid Daubechies
Professor of Mathematics and Applied and Computational Mathematics, Princeton University
Untuk menganalisa sinyal gambar, suara, elektrokardiogram atau goncangan partikel gas, kita harus menterjemahkan grafik menjadi lebih sederhana. Nah ilmuwan biasanya mecah bagian grafik itu jadi sekumpulan ombak/gelombang kecil yang disebut Daubechies’s wavelet. Yah wavelet ini bisa dibilang satu bagian lego yang dari data yang besar. Lego ini dipake untuk mengkompressi dan enkripsi data. Analoginya lagi, misalkan elo gambar lukisan pake cat air, nah kan elo bakal make beragam kuas dengan ukuran berbeda. Wavelet disini fungsinya mirip sama kuas berbagai ukuran itu. Memudahkan kita melukis gambar yang utuh.

Dresselhaus megang mainan anaknya

5. Mildred S. Dresselhaus
Professor of Physics and Electrical Engineering, MIT
Sebelum anak ke-empatnya masuk TK, Dresselhaus memecahkan struktur elektronik dari graphite, alotropi dari karbon yang sempet kita bahas di artikel sebelumnya. Mecahin struktur elektronik graphite ini sebenernya bukan masalah baru, tapi sebagian besar peneliti ketakutan untuk nyelesain masalah ini berhubung teka-teki yang sulit dari struktur ini. Makanya Dresselhaus milih topik penelitian ini karena nggak ada yang mau nyentuh. Penelitian mamak gaul ini berkontribusi besar pada penemuan Buckyball dan Carbon Nano Tube. Weew. Mamak-mamak ilmuwan.

Hoffman ketika memimpin ekspedisi mencari unsur eksotis

6. Darleane C. Hoffman
Professor of the Graduate School, University of California at Berkeley
Pernah nonton Mickey Mouse? Tau siapa nama anjingnya? Nah Hoffman ini adalah kepala suku tim yang nemuin Plutonium 244 di alam. Yah, emang nggak ada hubungannya sama Mickey Mouse sih. Indiana Jones edisi kimia ini punya misi buat nyari unsur-unsur dengan sifat-sifat yang misterius. Ilmu Nuklir ini adalah salah satu keilmuan yang dimulai sama sepasang suami istri dimana sang istri, Marie Curie, adalah salah satu ilmuwan wanita paling dikenal abad ini.

Mirip yang di The Big Bang Theory yaah? Amy Farah Fowler

7. Melissa Franklin
Professor of Physics, Harvard University
Nyah Franklin ini fisikawan eksperimental yang hobinya bikin-bikin alat lab. Yah semacam pembalam tamiya lah. Diotak-atik kalo nggak sesuai harapan. Cuma bedanya yang doi otak atik itu detektor partikel super kompleks. Salah satu buatan doi adalah detektor proton-antiproton Collider di Fermilab Batavia, Illinois yang dia pake untuk mengidentifikasi quark (only the top one) tahun 1995.

Rosalind Franklin dan foto x-ray dari DNA

8. Rosalind Franklin (1920-1958)
King’s College London
Bukan saudara sama Melissa Franklin yaah. Kalo Rosalind Franklin ini suka banget fotografi. Tapi foto pake X-ray. Di awal tahun 1950, Rosalin moto DNA yang sudah mengkristal menggunakan X-ray. Karena foto ini, akhirnya kita semua tau kalo molekul DNA itu berbentuk helix! Data ini terus dipake sama James Watson dan Francis Crick untuk menguraikan struktur DNA tanpa sepengathuan Rosalind. Ckckck. Alhasil Watson dan Crick memenangkan Nobel pada tahun 1962. Sayang, Rosalind sudah meninggal pada tahun 1958 sehingga tidak dapat protes karena fotonya dipake.

Lah brooo, kok nggak ada Marie Curie? Well. Keluarga nyonya Curie tidak sesimpel yang anda pikirkan bro. Untuk menghormati beliau, tidak cukup postingan satu paragraf menjelaskan kontribusi beliau kepada dunia. Nanti gue bakal semedi dulu untuk nulis tentang keluarga Curie.
Anyway, sampe sini dulu postingan memperingati hari wanita sedunia.

Sampe postingan selanjutnya!

Karbon and Friends

Mungkin lo tau kalo berlian dan grafit terbuat dari bahan dasar yang sama yaitu karbon. Yang bikin beda adalah atom karbon yang menyusun mereka terdiri memiliki konfigurasi yang berbeda karena faktor tekanan, suhu dan elemen lain. Berlian adalah hasil tekanan yang sangat tinggi dan grafit tidak mengalami banyak tekanan. Hal ini disebut juga alotropi (allos artinya lain dan tropos artinya perlakuan). Variasi material yang terbentuk dari beberapa konfigurasi berbeda ini disebut juga alotropi dari sebuah elemen. Sebutan ini hanya berlaku buat bahan yang tersusun dari satu elemen saja yah guys. Jadi, nggak ada alotropi untuk air karena tersusun dari dua elemen yaitu hidrogen dan oksigen.

Alotropi ini terjadi pada beberapa elemen seperti oksigen, nitrogen dan fosfor, tapi contoh yang paling umum alotropi adalah karbon. Mau tau contoh alotropi karbon? Liat nih:

Bling bling bling!

Berlian.
Simply the third most loved carbon in the world. Atom karbon pada berlian terikat dengan sangat kuat. Setiap atom terikat dengan 4 atom lainnya dari empat sumbu berbeda. Hal ini membuat atom sangat simetris dan punya pola saling mengunci dalam sebuah batu berlian. Susunan atom inilah yang memberikan berlian karakteristiknya seperti cara bereaksi terhadap cahaya, tingkat kekerasan dan resistansi terhadap arus listrik.

Kalo segede gini sih nggak bisa dipake buat nulis

Graphite.
Setiap atom dalam grafit terikat oleh 3 atom lainnya dari 3 arah berbeda. Namun tidak seperti berlian, atom karbon pada grafit terikat dari sumbu yang sama. Ikatan ini bersama-sama membentuk boyband, enggak deng, membentuk lembaran setebal satu atom saja. Nah semua lembaran itu saling terhubung dengan lemah. Jadi lembaran-lembaran ini gampang banget kekocok kayak kartu. Makanya grafit lembut dan licin. This is perfect beut untuk dijadiin alat tulis. Ini juga menjelaskan mengapa pensil cukup mudah dihapus.

Lonsdaleite. Mirip permen.

Lonsdaleite
Alotropi karbon yang satu ini tuh campuran dari Graphite dan Berlian. Waktu meteor yang mengandung grafit jatuh ke bumi, panas dan gaya dari tabrakan ini mengakibatkan atom berubah konfigurasi, ngasilin formasi permukaan yang mirip dengan berlian namun juga mengandung ikatan 3 atom grafit. Lonsdaleite sangat keras walaupun tidak sekereas berlian, transparan dan kuning-kecoklatan. Lonsdaleite sangat langka. Meteorit gitu loh.

Yang paling kiri struktur atom pada berlian, yang tengah grafit dan yang paling kanan campurannya

Btw, karbon favorit dunia saat ini adalah Petroleum Oil dan batubara. *padahal itu komposisinya bukan cuma Karbon*. Well, alotropi karbon sejujurnya cukup banyak dengan beragam karakteristik. Salah satu yang paling terkenal adalah Carbon Nano Tube (CNT) dan Graphene (which is graphite tapi cuma selembar). Untuk Graphene, baru-baru ini ditemukan cara pembuatannya dengan biaya yang jauh lebih murah. Lo bisa baca papernya di mari [http://www.nature.com/articles/ncomms14217]

Darimana Asalnya Debu?

Buat nyari data yang umum dan valid mengenai debu itu susah pisan euy. Komposisi debu bervariasi tergantung dari lokasi tempat kita mengambil sampelnya. Jangankan beda negara atau daerah, beda ruangan aja bisa beda komposisi debunya. Komposisi ini juga tergantung dari musim/cuaca dan gaya hidup si penghuni. Punya peliharaan kah? Rajin beresin kamar kah? Atau suka buka jendela kah? Nah semuanya mempengaruhi komposisi debu di rumah lo.

Piano yang sudah lama tidak digunakan. Kemungkinan besar lebih banyak mengandung kotoran serangga daripada sel kulit mati manusia.

Yang jelas, klaim yang menyatakan kalo 70% debu di rumah itu sel kulit yang mati itu lebaay. Yang lebih umum, debu itu asalnya dari ketombe binatang, pasir, sisa-sisa serangga, tepung, dan segambreng kotoran.

Sel kulit mati yang kita tinggalin selama setahun kalo dikumpulin cukup untuk ngisi kantong tepung 500 gram. Yapi sebagian besar dari itu bakalan abis di kamar mandi (Dibawa sabun) atau dimakan tungau debu. Dalam sesendok teh debu, kita bisa dapet sampe 1000 tungau dan 250.000 guess what, kotorannya tungau… Euuw.

Ini dia nih pelakunya!
Ukuran doi cuma 0,2-0,3 milimeter. Beeh. Sebesar harga diri politikus yang abis umbar janji ke rakyat terus korupsi aja.

Doi bisa hidup dimana aja di rumah kita, termasuk di tempat tidur bahkan bantal kita. Tapi klaim jualan tukang bantal kalo setengah dari berat bantal dan guling lo tersusun dari mayat tungau dan kotorannya itu juga salah.

Anyway, orang yang alergi debu itu sebenernya alergi sama… yap. Sama kotorannya tungau ini sebenernya. Perut tungau kebetulan ngasilin enzim yang ngeganggu saluran pernapasan manusia.

Sa ae Kapanlagi moto Cincha Laura lagi bersin. Jangan-jangan bersinnya gegara nggak sengaja nyedot kotoran tungau (debu)?

Naah, that’s it for now. Tetap curious yah guys!