Sebelah Tangan

Hujan baru saja berakhir malam itu. Dinginnya menusuk sampai ke tulang. Entah kenapa, mata fisik dan mata batinku tertuju pada seorang peminta di tepian jalan. Mungkin malam itu, Tuhan memang mengutus kami kepadanya.

Setelah 20 menit melintasi jalanan sepanjang BIP dan BEC akhirnya kami menghentikan langkah kaki kami.
Kami berhenti untuk memberikan sebungkus nasi dan air minum kepada seorang bapak tanpa tangan kanan.
Setelah memberikan nasi, kami duduk di tepian jalan itu. 3 orang satpam berdiri di hadapan kami, menatap tajam seakan kami pencuri. Orang-orang lalu lalang diantara hiruk pikuk akhir pekan. Beberapa dengan tampang bingung memperhatikan kami. Setelah memberi nasi, kami duduk bersama bapak itu di emperan, bercerita.

Kembalilah dalam Ribaan

Anakku sayang, anakku malang
Muda
Tapi sudah harus menentang badai

Teringat dulu kau berlari di halaman
Ketika jatuh, kau cari ibu
Tak kuasa melihat air matamu
Tak kuasa melihat lukamu
Dan ibu memelukmu sambil berkata:
Jangan menangis, ibu ada disini

Sampailah pada hari itu
Hari kau sadar, duniaku terlalu kecil
Kau pergi dengan hati
Untuk menaklukkan hari

Anakku sayang, anakku malang
Apa yang kau temukan disana?
Bahagiakah engkau?

Ketahuilah doa ayah selalu menyertai
Semoga tercapai semua cita-citamu
Agar jangan sia-sia ayah bekerja
Kelak kau yang akan menuntun ayah
di masa tua nanti

Anakku sayang, anakku malang
Tahun sudah berlalu
Dibalik sore danau Toba
Aku belum menemukan bayanganmu

Terlupakah engkau akan aku?
Tanah tempatmu mengakar
yang diperjuangkan leluhurmu dengan darah.
Tak perduli apa yang terjadi
di tahun-tahun kau pergi.

Kembalilah dalam ribaanku
Anak ku Tatea Bulan, anak ku Isumbaon
Jangan terbeban lagi

Biar ku isi kembali
Apa yang terhilang di perjalananmu
Biar ku cari
Apa yang tak kau temukan