Rumah dan Ricauan Rindu

Gelas-gelas di rumah itu penuh dengan warna cerah. Sirup srikaya, jeruk, mangga dan leci. Terkadang berisi buah naga, terkadang berisi agar-agar yang dipotong dadu. Ragamnya warna gelas itu juga menggambarkan suasana di rumah. Penuh dengan keceriaan, canda tawa. Lain waktu, rumah itu juga terkadang penuh dengan haru dan tangis. Saudara yang lama tak berjumpa dapat menebus waktu-waktu yang hilang di rumah itu. Lain lagi ketika kesulitan menerpa. Bergantian menyampaikan opini dan kemungkinan solusi untuk setiap masalah yang datang.

Setiap pertemuan ini penting. Hiruk pikuk kota Jakarta, debu yang merasuki setiap hela napas, dan panas matahari yang menusuk kerap membuat kita lupa untuk bahagia. Diburu tagihan dan tekanan milenium ketiga. Setiap tetes keringat yang keluar dari membanting tulang turut mengikis energi. Lantas untuk setiap energi yang terbakar, emosi juga ikut terkikis bersamanya. Semakin lelah, semakin mudah bersungut dan meninggikan suara. Pun juga dengan segala kesedihan yang kita rasakan untuk setiap kehilangan, kegagalan dan penolakan.

Konsentrasi perasaan ini jauh lebih buruk dampaknya daripada konsentrasi substansi apapun juga. Manusia bisa hidup melawan tumpukan daging yang kita beri nama tumor dan kanker. Manusia bisa hidup melawan akumulasi kolestrol di antara saluran nadi. Bahkan ada manusia yang mampu bertahan melawan sadisnya virus HIV. Namun tidak ada manusia yang dapat hidup di tengah konsentrasi rasa kesendirian.

Bumi sudah lebih dari lima kali mengelilingi matahari semenjak terakhir aku berada di dalam rumah itu. Layaknya mengapa Tuhan menciptakannya demikian, biar sebab menyebab rumah itu ditinggal tetap menjadi misteri. Rumah itu mungkin saat ini tampak runyam didera jaman. Namun bukan berarti tidak dapat kita tegakkan kembali. Oleh sebab pondasinya bukanlah beton ataupun baja yang fana. Pondasinya adalah setiap penghuninya. Selagi masih ada keinsafan untuk membangun rumah yang dipercayakan para leluhur, ia masih bisa dibangun lagi.

Teorinya, semakin beranjak usia seseorang, semakin sedikit kawan bicara orang tersebut. Akan lebih banyak teman sebaya yang pergi melintas menuju keabadian. Lantas kemanakah pekatnya perasaan tersebut dapat dicairkan? Pilihan yang semakin sedikit kelak hanya menyisakan keluarga. Baik itu saudara kandung yang masih diberikan usia maupun anak, cucu, sepupu dan keponakan.

Aku memang bukan orang yang pandai basa basi. Orang menganggapku canggung dan kaku. Terlalu logika bahkan. Namun bukan berarti aku tidak menyukai berkumpul dengan keluarga dan teman-temanku. Aku lebih menikmati mendengarkan cerita orang lain ketimbang mendengar celotehanku sendiri. Apalagi aku kurang mampu menghentikan laju bicara ku disaat aku sudah mulai berbicara.

Ini adalah sajak-sajak rinduku terhadap rumah itu. Dulu ketika rumah itu mulai kosong, tampak oma Remi dan oma Endut dengan gagah menopangnya sendiri. Momen Natal selalu menjadi momen bagi kami, para penghuni untuk kembali pulang dan berkumpul. Rumah itu kini sedang meradang. Penghuninya lupa dimana rumah, terjebak hingar bingar bumi manusia dan segala persoalannya.

Kita semua sedang berpacu dengan waktu. Semakin hari, waktu mengurangi peluang kita untuk saling bertukar cerita. Satu persatu penghunginya sudah mencapai garis akhir kehidupan. Dilain sisi, ego menambah peluang kita untuk silang dalam segala.

Ah, mungkin aku saja yang meradang ditikam rindu akan masa-masa itu.

Rasa-rasanya ingin sekali aku menghardik waktu. Aku ingin sekali kembali ke rumah itu. Aku rindu gelas-gelas berwarna warni dan keceriaan disana. Aku rindu harunya perjumpaan kembali. Aku rindu cerita-cerita mereka. Aku rindu.

Apakah berkumpul dengan keluarga besar perlu menunggu momen khusus seperti Natal? Lebaran? Pernikahan? Paskah? Idul Adha? Atau yang paling buruk, Pemakaman?*

Tak bisakah kita berkumpul atas dasar rindu semata?

*Pertanyaan yang muncul dikepalaku ketika menghadiri pemakan om Iim.

Untuk Pak Ben

Apa yang ada di dalam pikiran seorang siswa SMA yang malas dan tak acuh itu? Hampir satu harian disekolah hanya dihabiskannya untuk tertawa, berbincang dan bermain. Walaupun punya kemampuan namun tanpa niat, hanya ada sebuah buku tulis di dalam tasnya.

Hingga akhirnya seorang guru Fisika menghampirinya dan bertanya, “Kamu kenapa nggak nyatet?” Dibalasnya dengan sedikit rikuh, “Buku saya sudah habis pak. Ini saya nulisnya aja di sampul”.

“Haduh. Ini saking semangatnya apa nggak niat sekolah terus cuma bawa satu buku doang ke sekolah?”, balasnya sambil merogoh kantongnya. “Beli buku tulis dulu sana”, sambil memberikan selembar uang Rp 10.000.

“Iya pak”, dengan gagu, kuambil uang tersebut dan berlari menuju sebuah toko dibelakang sekolah.

Aku memang berasal dari golongan menengah yang sebernya mampu untuk membeli sebuah buku tulis.Namun tak kumiliki tujuan dalam menempuh pendidikan ini. Aku rasa seperti inilah pikiran mayoritas remaja tanggung dalam zaman dan generasi apapun.

Dilain sisi, bapak guru tersebut memiliki penyakit yang saat itu tidak kutahu. Esoknya, beliau menolak uang yang hendak ku kembalikan pada beliau. Tujuan saya mengajar bukan untuk itu katanya.

Pak Ben mengikuti upacara hari Senin

Pak Ben mengikuti upacara hari Senin

Bukan sebuah pidato, bukan sebuah doktrin, bukan uang apalagi harta yang mampu mengubah pandanganku. Melainkan sebuah buku tulis kosong yang barangkali tidak ada artinya bila dibandingkan dengan mahar dukungan politik bapak-bapak anggota dewan. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku mulai memikirkan untuk apa akan kugunakan hidupku.

Hari berlalu dan kulihat beliau tidak hanya dekat dengan anak-anak yang pintar saja, namun dengan semua murid. Pendidikan baginya rupanya tidak hanya sekedar ruang kelas dan daftar nilai belaka. Lebih dari itu ada kasih yang beliau tunjukkan dalam obrolan-obrolan diluar kelas. Kami selalu tahu dimana harus mencari beliau. Beliau menghabiskan waktu dengan rokok kretek kesukaannya dibelakang kantin sekolah. Tempat itu pun berubah menjadi layaknya tempat bersemedi. Beliau adalah tempat bertanya dan harus ada jawabnya. Bahkan bagi orang yang bebal sepertiku, hanya nasihat beliau saja yang kudengar.

Di akhir masa SMA-ku, beliau mulai terserang penyakit dan harus mengurangi jam mengajar. Kami pun mengumpulkan sedikit uang jajan kami untuk membantu membiayai pengobatan beliau. “Tidak perlulah. Kalian lanjutkan saja hidup kalian dahulu. 5 tahun yang akan datang baru kalian jumpai saya dan bawakan permen untuk saya”, katanya. Bahkan ditengah penyakitnya, beliau masih mengutamakan visi ketimbang dirinya sendiri.

Aku hanya berada di urutan 18 dari 36 murid. Aku berasal dari golongan minoritas yang belajar di sekolah swasta. Namun beliau selalu menguatkan niat ku dan kawan-kawanku untuk memberanikan diri bertarung untuk kesempatan belajar di kampus-kampus impian setiap kami. Bahkan dorongan beliau juga berlaku untuk kawanku yang berada pada urutan juru kunci.

Beberapa guru menyalahkan muridnya yang dirasa bodoh. Beberapa guru yang lain berfilosofi seakan tidak ada manusia bodoh. Pendidikan bagi guruku juga mengenai membangun hubungan antara murid dan guru. Berkat dorongan dan doa itu, seorang anak malas urutan 18 itu, anak yang diberikannya buku untuk belajar itu, akhirnya punya kesempatan belajar di salah satu kampus terdepan bangsa. Bukan hanya aku, namun juga 8 orang lainnya termasuk juru kunci kelas. Betapa senangnya beliau ketika ia tahu kerja kerasnya mengajar dan mendidik kami tidaklah sia-sia.

Jauh di utara sana, sebuah negara yang dijuluki sebagai negara dengan sistem pendidikan terbaik baru saja mencengangkan dunia. Finlandia sebisa mungkin mengurangi jumlah tugas yang diberikan kepada murid. Tidak ada murid yang tinggal kelas dinegara tersebut berdasarkan kebijakan negara. Di timur ada sebuah negara yang senantiasa dirundung perang sejak milenia yang lalu. Hebatnya, Palestina memiliki human development index yang lebih tinggi dari saudaranya yang boros sumber daya, Indonesia.

Indonesia mengenal pemisahan dua metodologi pendidikan sebagai Andragogi dan Pedagogi. Andragogi adalah metode pendidikan dimana peserta didik dianggap sebagai orang dewasa dan sudah mampu belajar secara otodidak. Sebaliknya, Pedagogi adalah metode pendidikan dimana peserta didik dianggap sebagai anak kecil yang perlu dicekoki materi supaya paham materi didik. Tentu ini hanyalah pemahaman kasar dan akupun masih kurang pemahaman untuk menjelaskan secara lebih detail.

Dalam kaderisasi kampusku, aku memperoleh kesempatan untuk mempelajari lebih jauh mengenai segregasi Andragogi dan Pedagogi ini. Aku menemukan paper mengenai psikologi pendidikan yang menjelaskan mengenai gabungan kedua gogi tersebut yaitu Humanogogi. Bahwa dalam sebuah pendidikan, peserta didik bukanlah anak-anak atau orang dewasa namun manusia. Tugas seorang guru adalah menimbulkan pertanyaan dan menjawabnya berdampingan dengan muridnya. Tidak ada hal yang paling mudah untuk menggambarkan humanogogi selain adanya hubungan yang terjalin antara seorang guru dan murid.

Inilah mengapa sistem pendidikan Finlandia dan Palestina lebih baik dari Indonesia. Tugas dan materi yang disampaikan guru sedikit dikurangi agar guru bisa membagi waktu dengan membangun hubungan tersebut. Bahayanya pergi sekolah di Palestina menyebabkan hubungan antara guru dan murid yang lebih dekat. Setiap detik sekolah yang mereka rasakan bisa saja menjadi yang terakhir. Entah berapa sekolah yang harus melaksanakan evakuasi di tengah kegiatan belajar mengajar. Entah berapa guru atau murid yang harus meregang nyawa karena terjepit ditengah perang.

Guru Fisikaku ternyata melakukan ini semua jauh sebelum aku paham sedikitpun mengenai apa yang beliau lakukan untuk kami, murid-muridnya. Ternyata Guru Fisikaku menerapkan sebuah sistem bertaraf dunia di sekolah berisi kelas Menengah Ngehe yang barangkali murid-muridnya hanya tau menjelajah dari satu mall ke mall yang lain seperti diriku dulu.

Lebih dari itu semua, guruku, selalu percaya dengan anak muridnya. Beliau percaya buku tulis yang ia berikan padaku dapat memberikanku sebuah tujuan. Bahkan setelah beliau tiada, aku yakin, kami murid-muridnya masih memegang kepercayaan beliau di dalam hati kami. Maafkan jika kelak satu dua kali kami akan keluar jalur, Pak. Namun percayalah, mimpimu masih akan terus bertumbuh melalui setiap anak muridmu.

Terima kasih atas segalanya. Dalam keabadian, tetaplah menjadi penunjuk jalan kami, Pak Ir. Bernardi Japriadi.

Janji Kami Untukmu

Terima Kasih Pak Ben!

Observasi Terhadap Orang Indonesia: Biar Ngetren dan Gahoel

Makan Tuh
Pernah nggak sih lo sebelum makan sama temen lo, eh dia poto dulu tuh makanan buat masuk instagram? Atau sebelum lo ke pusat perbelanjaan tertentu, adek lo update Path dulu? (walaupun kadang sebenernya cuma numpang lewat) Atau ketika lo mau pergi sama temen2 lo, ngaret jauh banget dari waktu yang sudah disepakati karena pada selfie2 dulu? Atau ketika tiba2 temen2 lo make baju yang sama atau maenan yang sama atau dandanan yang sama supaya gaul? Atau ketika temen lo nge-share di medsosnya berita-berita mengejutkan (seringnya gosip2 artis)? Yang paling ngeselin kalo lo punya temen yang hobinya ngebumbuin berita2 yang beredar tanpa nyari faktanya. Dan ketika lo tanya, ngapain lo ngelakuin itu, jawabannya seragam: Biar Gahoel bro! Biar ngetren bro!

Observasi Terhadap Orang Indonesia: Asal Dapur Ngebul

Asal dapur ngebul merupakan salah satu fenomena yang sering dijumpai dalam obrolan dengan orang-orang Indonesia (versi paling serem: ngobrol sama calon mertua). Sering dalam obrolan kumpul keluarga, sebagai anggota keluarga berusia 20-an, dibombardir dengan obrolan mengenai pekerjaan. Dan setelah menyampaikan informasi mengenai pekerjaan yang sedang dilakukan, buntutnya.. yah lumayanlah asal dapur ngebul.

Asal Dapur Ngebul